KRITIK DAN ESAI

 Nama       :  Laura Alvina Dewi

Kelas         :  12 MIPA 9 

Absen        :  16


Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas pelajaran Bahasa Indonesia pada bab Kritik dan Esai.

KRITIK

Kritik Trilogi Novel (Roro Mendut, Genduk
Duku, Lusi Lindri)

karya Y.B.Mangunwijaya.




Novel-novel ini merupakan cerita sejarah yang terjadi pada abad XVII masa pemerintahan Sultan Agung dan pemerintahan Sunan Amangkurat I. Ketiga novel tersebutmasing-masing menampilkan tiga sosok perempuan yangmempunyai peran sendiri-sendiri yang satu dan lainnyamenekuni persoalan dan peristiwa yang harus dipecahkan.

Pada novel pertama berjudul Roro Mendut. Novel inidimulai pada masa peperangan antara Pati dan Mataram. Olehpanglima Mataram, Tumenggung Wiroguno, semua putriddiboyongnya. Di antara putri-putri boyongan, Roro Mendut ikut ke Mataram. Sebagai putrid boyongan Roro Mendut harusbersedia diperistri oleh Tumenggung Wiroguno, tetapi karenaRoro Mendut sudah mencintai Pronocitro, dia tidak bersediadiperistri. Hal tersebut menjadikan amarahTumenggungWiroguno yang berakhir dengan kematian Roro Mendut danPronocitro di tanganTumenggung Wiroguno.

Cerita berlanjut dengan novel yang kedua yang berjudul Genduk Duku. Novel ini merupakan kelanjutan peristiwa-peristiwa kerajaan Mataram. Kematian Roro Mendut membuat Genduk Duku,dayang perempuan Roro Mendut, meneruskan perjalanan dan meminta perlindungan kepada Bendoro Ayu Pahitmadu, kakak perempuan Tumenggung Wiroguno.

Setelah menikah dengan Slamet, Genduk Duku meneruskan perjalanan hidupnya pada masa pemerintahan Amangkurat I yang bertindak sewenang-wenang. Banyak hal yang dialami Genduk Duku dalam pengabdiannya pada Bandara Ayu Pahitmadu. Masa remaja putra mahkota, Pangeran Aryo Mataram, yang suka memperkosa perempuan, juga dialami oleh Genduk Duku, sampai menjadi Sunan Amangkurat I.

Novel ini diakhiri dengan kematian Slamet, suamiGenduk Duku, karena dibunuh oleh Tumenggung Wirogunopada saat akan menyelamatkan Tejorukmi, putrid yangmenyeleweng dengan Pangeran Ariyo Mataram.

Kematian Slamet, membuat Genduk Duku inginmengasingkan diri. Kelanjutan peristiwa ini diungkapkan padanovelnya yang ketigaberjudul Lusi Lindri. Novel inimengisahkan kehidupan Lusi Lindri, anak Genduk Duku.Sebelum Genduk Duku mengungsi, ia menitipkan Lusi Lindrikepada Nyai Pinundi.

Pada awal kehidupan Lusi Lindri di kerajaan, iamengalami peristiwa pemberontakan dan pembunuhanTumenggung Wiroguno dan Danupoyo. Peristiwa mulaiberlanjut yaitu Lusi harus menjalankan tugas sebagai salah satuanggota pasukan pengawal pribadi raja yang sering disebutPasukan Trinisat Kenya.

Lusi, setelah menjadi Pasukan Trinisat Kenya harus menjalankan tugas-tugas rahasia pada saat pemerintahan Amangkurat I. Setelah menikah dengan Peparing, pemuda di Pecikalan. Ia bersama dengan suaminya mendapat tugas sebagaimata-mata di Batavia. Cerita diakhiri dengan runtuhnya Amangkurat I dan meninggalnya Genduk Duku.

Bagaimana Mangunwijaya melihat sosok perempuan. Ini dituangkan ke dalam novel-novelnya. Hal-hal yang dapat diungkapkan oleh Mangunwijaya tentang tokoh-tokoh perempuan dapat diikuti penampilan Roro Mendut, GendukDuku, dan Lusi Lindri. Mereka sebagai kelas bawah harus patuh terhadap penguasa. Ketika Adipati Pragolo, adipati wilayah Pati, memberontak terhadap raja Mataram, ia terkalahkan oleh panglima Mataram. Roro Mendut calon selirAdipati Pragolo akhirnya ikut serta menjadi putri boyongan, ia tidak bisa menolak, demikian juga Genduk Duku seorang dayang yang selalu mendampingi Mendut. Dengan berat hatidan jiwa yang memberontak Mendut dan Duku terpaksa ikut terboyong ke Mataram.

Pada saat Lusi Lindri sudah dewasa, dia harus bersediamengabdikan dirinya untuk istana. Lusi akan menjadi salahseorang anggota pasukan pengawal pribadi raja.

“Puanku Ratu Ibu, Lusi Lindri siap apabila dikehendaki oleh istana. Di puriku dia hanya menguap saja.....

“Sudah sejak kecil ia disebut begitu. (Tetapi manis. Betul, ia manis.) Betul, Puanku, Sekarang si Lusi memang terlalu longgor untuk nama Lindri. Disuruh bekerja di dapur pun pasti dia mau.”

“Ah, mana mungkin gadis yang cerdas perkasa macam ini dipasang di dapur? Tidak! Pasukan pengawal pribadi raja kurang satu orang. (Oh) Pasti bukan Pasukan Trinisat Kenya? Betul.....

(Mangunwijaya, 1994: 30-32)

Sebagai perempuan, walaupun sering diungkapkan sebagai makhluk yang lemah, tetapi Mangunwijaya sebagai pengarang memandang bahwa perempuan harus memiliki pendirian yang teguh. Ini diungkapkan pengarang melalui tokoh Roro Mendut. Roro mendut sebagai perempuan boyongan harus mau dan selalu tunduk pada penguasa, tetapi tidak demikian. Ia berani membantah apabila tidak sesuai dengan kata hatinya, tidak peduli kepada siapa.

Roro Mendut, Genduk Duku, mereka sebagai perempuan mempunyai pendirian yang teguh tidak tergoyahkan oleh apapun. Kemuliaan sikap yang dimiliki oleh Mendut untuk berani memilih sesuai dengan kata hatinya sangat dikagumi oleh Genduk Duku. Sebagai perempuan boyongan seharusnya tunduk pada penguasa, tetapi tidak demikian Mendut, dia berani menentukan sikap.

Roro Mendut, Raden Roro Mendut! Apa sebutanmu di istana? Harimau betina dari padang ilalang Pantai Utara, ah itulah! Genduk Duku pun harimau kini. Bukan si Genduk perawan kencur atau si manise Genduke. Sungguh sulit dipahami, Roro Mendut pujaan, sekaligus kakak tercintanya sudah tiada. Terbunuh, ya! Namun terbunuh dalam kemuliaan sikap, dalam keagungan tindak yang berdaulat dan berani untuk memilih (Mangunwijaya, 1994: 11)

Masalah cinta, rupanya pengarang sangat menghormati kaum perempuan. Kebudayaan kaum ningrat sangat memandang rendah martabat kaum perempuan. Perempuan harus selalu tunduk dan patuh terhadap laki-laki, apalagi dalam lingkungan istana, perempuan hanyalah sebagai pemuas kaum laki-laki saja. Genduk Duku, Roro Mendut sebetulnya sangat dikehendaki oleh Tumenggung Wiroguno untuk dijadikan selir, tetapi dengan tegas ditolak. Tokoh telah memenangkan cintanya, cinta yang suci dibelanya sampai mati.

Dalam triloginya, Mangunwiyaja menampilkan tokohnya yang bernama Roro Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri. Mereka berasal dari daerah pantai. Masyarakat pantai biasanya tidak mengenal kerumitan birikrasi. Dengan demikian suasana demokratis akan mudah tercipta karena terdapat keselarasan, keseimbangan dan keharmonisan lebih bersifat horizontal.

Lingkungan dapat membentuk kepribadian seseorang. Sebagai perempuan pantai, Mendut dilukiskan sebagai perempuan yang perkasa, cerdas dan tidak mudah putus asa. Meskipun tinggal di istana, ia tetap sebagai gadis yang pantang menyerah dan pemberontak. Perubahan lingkungan kehidupan pantai ke lingkungan istana, ternyata tidak mengubah karakteraslinya. Ia dibesarkan di lingkungan kaum nelayan yang keras. Kaum nelayan biasa bergulat dengan badai dan ombak lautan. Hal itu dapat menumbuhkan sifat-sifat tidak mudah putus asa dan tidak mudah menyerah.

“Tidak pernah seorang calon istri TumenggungWiroguno mengajukan syarat.”

“Siapa bilang aku calon istri Wiroguno?” tangkisMendut sungguh kurang ajar.....(Mangunwijaya,

1994: 121)

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa tokoh yang dilatarbelakangi oleh kehidupan yang keras akan menyebabkan seseorang tidak mau menyerah, dia mempunyai prinsip hidup yang tegas. Tokoh dengan berani menentukan sikap hidupnya, tidak pandang bulu terhadap penguasa.

Di istana seorang perempuan berada di bawah kekuasaan kaum laki-laki, Mangunwijaya rupanya ingin memperlihatkan bahwa kaum perempuan pun ternyata mampu mempunyai kekuasaan dan keperkasaan.


ESAI

Kesucian di Balik Kesunyian

Dalam sajaknya “Sunyi itu Duka” Amir Hamzah memberikan pengertian tentang sunyi.
Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus

Larik sajak tersebut merupakan manifestasi dari olah piker Amir Hamzah dalam mendefinisikan kesunyian. Salah satunya ialah sunyi yang identik dengan getir, gundah, dan luka. Oleh karena itu, pengertian sunyi di titik ini cenderung berkait-ke- lindan dengan segala hal ihwal yang sifatnya ironi. Bangsa Indonesia setidaknya pernah mengalami babakan sejarah yang anti terhadap hiruk-pikuk Kekuasaan disetel sedemikian rupa untuk menyensor segala aktivitas kehidupan masyarakat. Sejarah berjalan secara monologis. Tidak ada keriuhan dan ke-bisingan karena semua dipaksa untuk diam.

Konsekuensinya ialah terciptanya rezim antikritik. Seluruh elemen masyarakat didikte untuk mengikuti apa yang telah di-titahkan. Titah itu diklaim sebagai “kebenaran” yang mau tidak mau harus dilaksanakan meskipun perih dan pedih mengiris kehidupan masyarakat. Inilah realitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang berada di bawah bayang-bayang rezim Orde Baru.

Arus kebudayaan dibelokkan untuk melegitimasi segala kebijakan yang diambil oleh rezim, termasuk dengan membungkam para penyair yang dianggap berisik. Namun, penyair merupakan orang pilihan yang di dalam dirinya tertera sifat pemberani. Meski berkali-kali dibungkam, ia tetap menolak patuh. Ia tidak sudi mendekam dalam kesunyian, ia harus bersuara. Penyair tidak mau menjadi bagian dari apa yang oleh seorang sosiolog Jean Boudrillard disebut mayoritas yang diam(silent majorities).

Para penyair menyadari bahwa Orde Baru akan memainkan kuasanya hingga aspek kebahasaan. Aspek-aspek terkecil pun selama bisa terjangkau oleh radar rezim akan terus dipaksa untuk patuh. Menyadari hal itu sejumlah penyair merepresentasikan puisi sebagai bentuk kekhawatiran dan ketakutan. 

Dengan sangat lugas sastrawan cum sejarawan, Pramoedya Ananta Toer menggambarkan betapa perihnya dibungkam oleh rezim Orde Baru. Dalam bukunya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu ia memotret kehidupan yang begitu nelangsa di daerah pembuangan, Pulau Buruh. Pram merupakan contoh kecil dari anasir yang perlu disingkirkan. Buku tersebut merupakan sejenis memoar yang menceritakan elegi kehidupan Pram di pengasingan. Buku itu berisi surat-surat untuk anak-anaknya yang tidak pernah terkirim dan esai-esai yang digubahnya dari renungan terhadap realitas kehidupan yang mencekam.

Pada masa Orde Baru sunyi adalah duka. Kesunyian di sini ialah kengerian yang tersembunyi atau sejenis tragedi yang terus-menerus datang melanda, tetapi berusaha untuk terus ditutup-tutupi. Orde Baru menjadi rezim pendamba kesunyian dan penolak segala kebisingan yang datang melalui kebebasan berekspresi. Jalan sunyi yang ditempuh Orde Baru tidaklah benar-benar sunyi karena di balik itu terendap sebuah gejolak dan gemuruh yang tak berkesudahan.


Riuhnya kehidupan

Tumbangnya Orde Baru membuat kebebasan berpendapat tidak lagi disekat. Seturut dengan itu, wahana-wahana untuk berpendapat dan berekspresi pun kian menjamur. Titik baliknya ialah ketika teknologi informasi semakin canggih. Peradaban sunyi yang dulu digelar oleh Orde Baru dengan cepat terganti oleh hiruk-pikuk yang timbul pada era Refomasi.

Nubuat yang dulu sempat disuarakan oleh seorang ilmuwankomunikasi Marshall McLuhan tentang desa yang mengglobal(global village) terbukti benar. McLuhan melontarkan ide semacam itu pada tahun 60-an. Pada waktu itu ide tersebut dianggap aneh dan terlampau radikal karena televisi dan radio jangkauannya masih terbatas dan internet pun belum ada. Desa global adalahsebuah konsep terkait perkembangan teknologi komunikasi yang diandaikan sebagai sebuah desa yang sangat luas dan besar.

Dalam tatanan kehidupan desa yang mengglobal (globalvillage) pola penyebaran informasi semakin masif karena bisa diakses oleh semua orang. Komunikasi yang terjalin bukan  sekadar interaksi individual, melainkan interaksi massa. Kejadian yang sedang terjadi di kota metropolitan Jakarta dengan hitungan per sekian detik bisa diakses oleh mereka yang berada di pelosok Pulau Madura.

Akan tetapi, ironisnya saat manusia tak mampu mengendalikan perkembangan teknologi informasi. Masih segar dalam ingatan kita tentang seorang laki-laki di Jagaskara, Jakarta membuat siaran langsung bunuh diri di akun media sosialnya. Pihak facebook mungkin tak akan sempat berpikir bahwa fitur siaran langsung yang diciptakannya akan berdampak buruk seperti itu.

Namun, itulah dampak jika yang diciptakan melampaui kehendak penciptanya. Barangkali cerita dalam novelnya Mary Shelley sangat tepat dijadikan tamsil. Viktor Frankeinstein tokoh dalam novel itu mencoba menghidupkan kembali orang mati dengan merakit ulang potongan-potongan organ manusia. Akan tetapi, yang terjadi dari uji coba selama di laboratorium tersebutjustru monster meneror penciptanya.

Di samping itu, pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat kita terkepung oleh kesegeraan. Seolah-olah kita dituntut untuk terus mengikuti perkembangan terkini, entah itu
perkembangan ekonomi, politik, style atau mode. Tak ada ruang bagi kita untuk menepi sejenak dari riuhnya pasaraya informasi.

Kecepatan dan kesegeraan membuat eksistensi manusia gampang terombang-ambing. Padahal, terkadang kecepatan perkembangan ekonomi, politik, mode atau style tidak sesuai dengan kemampuan manusia untuk menggunakan fungsinya. Kita dibawa untuk terus berlari oleh komoditas yang sedang berkembang atau oleh informasi yang sedang viral, bukan malah mengendalikan lajunya. Inilah “Abad yang Berlari ” meskipun seribu manusia dipacu tak habis mengejar.

Belum lagi soal hoax atau berita bohong atau fitnah yang gampang diumbar di media sosial yang membuat garis antara kebenaran dan kepalsuan kian menipis. Dengan ujaran kebencian (hate spech), media sosial menjadi palagan untuk saling menghujatdan saling menyalahkan.

Kesunyian pada saat ini ialah sesuatu yang seolah-olah jauh karena hidup sedang dililit oleh kegaduhan, keramaian, dan kebisingan. Pesatnya teknologi informasi membuat sebagiana masyarakat hanyut dan lebur dalam persoalan yang justru tidak berkenaan sama sekali dengan dirinya sendiri. Mereka terlibat debat kusir yang belum tentu memiliki signifikansi. Kehidupan publik kita surplus kebisingan dan defisit kesunyian. Semua initerjadi saat batas dan jarak telah dilipat oleh kecanggihan teknologi informasi.

Kesunyian pun terasa lindap tertelan derasnya arus informasi yang hadir setiap detik. Naasnya, infomasi yang berjejal masuk dalam pikiran kita ialah informasi buruk mulai soal pem-bunuhan, pemerkosaan hingga kasus korupsi. Secara tidak langsung setiap hari kita memperbanyak jelaga dalam diri yang mengusik ketenangan dan kedamaian hidup.

Untuk itu, di saat suasana sedang genting, ramai dan gaduh,salah seorang investor Amerika, Warren Buffet menyarankan untuk berhenti membaca koran atau lebih tepatnya berhentilah sebentar bermedia sosial dan sejenak memilih jalan sunyi untuk menajamkan nalar dan menerangi mata hati.

Di tengah riuh-rendahnya kehidupan kita saat ini, mengkhidmati kesunyian merupakan jalan yang harus ditempuh agar bisa meluruhkan kegelisahan, kesumpekan dan kegaduhan yang melilit. Karena sunyi bukan sekadar duka seperti yang tergores dalam lembar sejarah Orde Baru, melainkan juga kudus yangdapat menyibakkan segala gundah yang sedang memasung diri.

Dalam banyak tradisi, kesunyian memiliki posisi yang agung. Setidaknya, di dalam kesunyian itu kita bisa melakukan refleksi, menafakuri hidup dan menguatkan konsentrasi. Laku-laku meditatif yang tersimpan di balik kesunyian ialah jalan keluar bagi kita yang sedang terhimpit oleh kegelisahan dan krisis eksistensial.

Dalam tradisi Jawa sudah sejak dahulu mendekam dalam kesunyian dikenal dengan nama semedi atau bertapa. Ada banyakcara yang dilakukan dalam bertapa, entah dengan pergi ke gua-gua, tinggal di puncak-puncak perbukitan atau berdiam diri ditempat-tempat ziarah yang disucikan di seantero Pulau Jawa.Tujuan mereka jelas ialah menyinari jiwanya dengan kebenaran hakiki agar hidup yang dijalani penuh dengan keselamatan.

Momen-momen kesunyian memberikan getaran rohani yang sangat luar biasa. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. saat khalwat di Gua Hiro. Dengan demikian, saat berkonsentrasi penuh dan merenung secara kuat, pancaran kebenaran gampang tertuang pada diri. Hanya dalam kesunyian, Tuhan sebagai bahasa kebenaran menemukan tempat dan hadir dalam hati. Sebagaimana kata Bunda Theresa, “Tuhan adalah kawan kesunyian. Pepohonan, bunga dan rerumputan tumbuh dalam kesunyian. Lihat juga bintang, bulan dan matahari semua bergerak dalam kesunyian.”

Pada dimensi yang lain menempuh jalan asketis dan medi-tatif seperti itu berguna untuk menguatkan eksistensi dan mengintrospeksi diri. Syahdan, saat gelombang kepesatan teknologi informasi sedang menjadi-jadi, eksistensi kita tetap tegakdan tidak gampang terbawa arus bagaikan karang yang dihantam ombak. Pijakan kita jelas karena kita telah mampu membedakan antara yang artifisial dan yang substansial, atau antara yang faktual dan yang fiktif.

Sementara seseorang yang hanya berkubang dalam gemerlap duniawi dan hiruk-pikuk kehidupan akan sangat ke-sulitan menemukan dirinya yang sejati. Melalui perilaku meditatif itulah kita mampu menekan kelakuan yang cendrung egoitis dengan menemukan “aku” yang hakiki, yakni yang altruis, bijak, jujur, dan toleran.

Setelah merasakan sunyi yang kudus itu, seseorang akan teguh merawat jiwanya meski berada dalam keriuhan. Ia menjadi ngeli nanging ora keli ‘menghanyutkan, tetapi tidak terhanyut’. Pada titik ini memilih jalan sunyi bukan berarti selamanya mendekam di dalamnya, melainkan harus terjun kembali ke tengah-tengah kehidupan yang disesaki keriuhan sembari menjadi suluh yang dapat mengatasi aneka persoalan yang sedang membelit masyarakat.

Mereka yang telah mencapai titik ini akan mengabdikan hidupnya semata untuk kepentingan umat manusia dan menjaga harmoni semesta. Kapasitas yang terkandung dalam dirinya bisa ditransformasikan dalam kehidupan sosialnya. Pemahamanseperti itu yang menurut Ki Hadjar Dewantara tertuang dalam semboyan mengaju-aju salira, mengajuaju bangsa, mengajuaj menungsa ‘membahagiakan diri, membahagiakan bangsa, membahagiakan manusia’.

Mengakrabi kesunyian bukan berarti antisosial, tetapi sebagai titik pijak untuk berlaku luhur terhadap sesama. Soekarno misalnya menemukan ide dasar Pancasila justru saat berada dalam kondisi sunyi di Pulau Ende Nusa Tenggara Timur. Ia terus merenung di bawah pohon sukun memikirkan falsafah yang cocok untuk bangsa Indonesia hingga pada akhirnya ditemukanlah, konsep dasar Pancasila. Demikian pula dengan sejumlah tokoh besar, seperti Mahatma Gandhi, Abdurahman Wahid alias GusDur, dan Mohammad Hatta yang teguh merawat ketenangan jiwanya dengan menempuh jalan sunyi yang kudus.

Dengan demikian, sunyi yang kudus dapat melahirkan kejernihan berpikir dan kearifan bertindak. Alhasil, merenung dalam kesunyian merupakan salah satu cara agar tidak gampang terprovokasi dan tetap tenang di tengah deru kecepatan informasi. Persoalannya, masihkah kita bisa mengkhidmati dan menemukan kesucian di baliknya?***


Demikian tugas ini saya buat dengan penuh tanggung jawab. Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai evaluasi untuk pembuatan tugas berikutnya.

Terima kasih.

Komentar

  1. Teks kritik dan esainya sudah dibuat sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan, pembahasan yang dipapar pun menarik.

    BalasHapus
  2. Teks kritik yang disajikan membahas makna puisi dengan sangat lengkap dan unsur unsur pembentukan puisinya pun dibahas dengan jelas. Dan teks esai nya juga sangat bagus.

    BalasHapus
  3. Teks kritik di atas menyajikan pembahasan buku yang lengkap. Teks esai yang dibuat juga sangat menarik ditambah lagi drngan judul yang apik.

    BalasHapus
  4. Teks Esai yang dibuat sangatlah menarik karena mengangkat topik yang sedang hangat dibicarakan. Teks kritik yang dibuat juga sudah menggunakan unsur dan kaidah kebahasaaan yang sesuai dengan aturan, serta menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.

    BalasHapus
  5. Teks kritik dan teks esai tersebut sangat menarik dan sangat lengkap pembahasan nya👍

    BalasHapus
  6. Teks essai yang dibuat membahas topik yang sangat menarik dan mengedukasi bagi pembaca, selain itu gaya bahasa yang digunakan juga mudah untuk dimengerti dan disajikan dengan jelas sehingga pembaca tidak bosan.

    BalasHapus
  7. Teks kritik dan esai yang dibuat sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan, gaya bahasa yang digunakan mudah dipahami dan menarik untuk dibaca

    BalasHapus
  8. Teks kritik dan essai yang dibuat sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan. Topik yang digunakan untuk essai pun cukup menarik

    BalasHapus
  9. teks esai dan kritik yang dibuat sudah sesuai degan struktur dan kaidah kebahasaannya, topik yang diangkat pada esai menarik dan kritik sastranya cukup kritis👍

    BalasHapus
  10. Teks kritik dan esai yg dibuat bagus dan menarik, penulisannya sudah sesuai kaidah kebahasaan dan struktur yg benar, bahasanya jg mudah dimengerti

    BalasHapus
  11. Teks kritik dan esai nya sudah bagus dan sesuai dengan kaidah kebahasaan nya. Kata-kata nya mudah dipahami dan dimengerti

    BalasHapus
  12. Teks kritik yang dibuat sudah sesuai dengan unsur, serta menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami selain itu memberikan informasi yang jelas bagi pembacanya. Teks esai yang dibuat juga sangat menarik untuk dibaca dan menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.

    BalasHapus
  13. Menurut saya teks kritik dan esai tersebut sudah sangat bagus dan sesuai baik dari segi struktur, maupun kaidah kebahasaannya. Selain itu masing-masing teks yang dibuat juga sudah sesuai dengan ciri-ciri dari teks kritik dan juga esai. Masalah yang diangkat dan dibicarakan juga merupakan topik yang aktual sehingga menarik untuk dibaca

    BalasHapus
  14. Teks kritik yang dibuat sangat menarik, pembahasannya lengkap dan bahasa yang digunakan pun mudah dipahami. Teks essai yang dibuat pun sudah baik dan sesuai dengan kaidah penulisan teks essai.

    BalasHapus

Posting Komentar