KRITIK DAN ESAI
Nama : Laura Alvina Dewi
Kelas : 12 MIPA 9
KRITIK
Kritik Trilogi
Novel (Roro Mendut, Genduk
Duku, Lusi Lindri)
karya
Y.B.Mangunwijaya.
Novel-novel ini
merupakan cerita sejarah yang terjadi pada abad XVII masa pemerintahan Sultan
Agung dan pemerintahan Sunan Amangkurat I. Ketiga novel tersebutmasing-masing
menampilkan tiga sosok perempuan yangmempunyai peran sendiri-sendiri yang satu
dan lainnyamenekuni persoalan dan peristiwa yang harus dipecahkan.
Pada novel pertama
berjudul Roro Mendut. Novel inidimulai pada masa peperangan antara Pati dan
Mataram. Olehpanglima Mataram, Tumenggung Wiroguno, semua putriddiboyongnya. Di
antara putri-putri boyongan, Roro Mendut ikut ke Mataram. Sebagai putrid
boyongan Roro Mendut harusbersedia diperistri oleh Tumenggung Wiroguno, tetapi
karenaRoro Mendut sudah mencintai Pronocitro, dia tidak bersediadiperistri. Hal
tersebut menjadikan amarahTumenggungWiroguno yang berakhir dengan kematian Roro
Mendut danPronocitro di tanganTumenggung Wiroguno.
Cerita berlanjut dengan
novel yang kedua yang berjudul Genduk Duku. Novel ini merupakan kelanjutan
peristiwa-peristiwa kerajaan Mataram. Kematian Roro Mendut membuat Genduk Duku,dayang
perempuan Roro Mendut, meneruskan perjalanan dan meminta perlindungan kepada
Bendoro Ayu Pahitmadu, kakak perempuan Tumenggung Wiroguno.
Setelah menikah dengan
Slamet, Genduk Duku meneruskan perjalanan hidupnya pada masa pemerintahan Amangkurat
I yang bertindak sewenang-wenang. Banyak hal yang dialami Genduk Duku dalam
pengabdiannya pada Bandara Ayu Pahitmadu. Masa remaja putra mahkota, Pangeran
Aryo Mataram, yang suka memperkosa perempuan, juga dialami oleh Genduk Duku,
sampai menjadi Sunan Amangkurat I.
Novel ini diakhiri
dengan kematian Slamet, suamiGenduk Duku, karena dibunuh oleh Tumenggung
Wirogunopada saat akan menyelamatkan Tejorukmi, putrid yangmenyeleweng dengan
Pangeran Ariyo Mataram.
Kematian Slamet,
membuat Genduk Duku inginmengasingkan diri. Kelanjutan peristiwa ini
diungkapkan padanovelnya yang ketigaberjudul Lusi Lindri. Novel inimengisahkan
kehidupan Lusi Lindri, anak Genduk Duku.Sebelum Genduk Duku mengungsi, ia
menitipkan Lusi Lindrikepada Nyai Pinundi.
Pada awal kehidupan
Lusi Lindri di kerajaan, iamengalami peristiwa pemberontakan dan
pembunuhanTumenggung Wiroguno dan Danupoyo. Peristiwa mulaiberlanjut yaitu Lusi
harus menjalankan tugas sebagai salah satuanggota pasukan pengawal pribadi raja
yang sering disebutPasukan Trinisat Kenya.
Lusi, setelah menjadi
Pasukan Trinisat Kenya harus menjalankan tugas-tugas rahasia pada saat
pemerintahan Amangkurat I. Setelah menikah dengan Peparing, pemuda di Pecikalan.
Ia bersama dengan suaminya mendapat tugas sebagaimata-mata di Batavia. Cerita
diakhiri dengan runtuhnya Amangkurat I dan meninggalnya Genduk Duku.
Bagaimana Mangunwijaya
melihat sosok perempuan. Ini dituangkan ke dalam novel-novelnya. Hal-hal yang
dapat diungkapkan oleh Mangunwijaya tentang tokoh-tokoh perempuan dapat diikuti
penampilan Roro Mendut, GendukDuku, dan Lusi Lindri. Mereka sebagai kelas bawah
harus patuh terhadap penguasa. Ketika Adipati Pragolo, adipati wilayah Pati,
memberontak terhadap raja Mataram, ia terkalahkan oleh panglima Mataram. Roro
Mendut calon selirAdipati Pragolo akhirnya ikut serta menjadi putri boyongan,
ia tidak bisa menolak, demikian juga Genduk Duku seorang dayang yang selalu
mendampingi Mendut. Dengan berat hatidan jiwa yang memberontak Mendut dan Duku
terpaksa ikut terboyong ke Mataram.
Pada saat Lusi Lindri sudah
dewasa, dia harus bersediamengabdikan dirinya untuk istana. Lusi akan menjadi
salahseorang anggota pasukan pengawal pribadi raja.
“Puanku Ratu Ibu, Lusi Lindri siap
apabila dikehendaki oleh istana. Di puriku dia hanya menguap saja.....
“Sudah sejak kecil ia disebut
begitu. (Tetapi manis. Betul, ia manis.) Betul, Puanku, Sekarang si Lusi memang
terlalu longgor untuk nama Lindri. Disuruh bekerja di dapur pun pasti dia mau.”
“Ah, mana mungkin gadis yang cerdas
perkasa macam ini dipasang di dapur? Tidak! Pasukan pengawal pribadi raja
kurang satu orang. (Oh) Pasti bukan Pasukan Trinisat Kenya? Betul.....
(Mangunwijaya, 1994: 30-32)
Sebagai perempuan,
walaupun sering diungkapkan sebagai makhluk yang lemah, tetapi Mangunwijaya
sebagai pengarang memandang bahwa perempuan harus memiliki pendirian yang
teguh. Ini diungkapkan pengarang melalui tokoh Roro Mendut. Roro mendut sebagai
perempuan boyongan harus mau dan selalu tunduk pada penguasa, tetapi tidak demikian.
Ia berani membantah apabila tidak sesuai dengan kata hatinya, tidak peduli
kepada siapa.
Roro Mendut, Genduk
Duku, mereka sebagai perempuan mempunyai pendirian yang teguh tidak tergoyahkan
oleh apapun. Kemuliaan sikap yang dimiliki oleh Mendut untuk berani memilih
sesuai dengan kata hatinya sangat dikagumi oleh Genduk Duku. Sebagai perempuan
boyongan seharusnya tunduk pada penguasa, tetapi tidak demikian Mendut, dia berani
menentukan sikap.
Roro Mendut, Raden Roro Mendut! Apa
sebutanmu di istana? Harimau betina dari padang ilalang Pantai Utara, ah itulah!
Genduk Duku pun harimau kini. Bukan si Genduk perawan kencur atau si manise Genduke.
Sungguh sulit dipahami, Roro Mendut pujaan, sekaligus kakak tercintanya sudah
tiada. Terbunuh, ya! Namun terbunuh dalam kemuliaan sikap, dalam keagungan tindak
yang berdaulat dan berani untuk memilih (Mangunwijaya, 1994: 11)
Masalah cinta, rupanya
pengarang sangat menghormati kaum perempuan. Kebudayaan kaum ningrat sangat memandang
rendah martabat kaum perempuan. Perempuan harus selalu tunduk dan patuh terhadap
laki-laki, apalagi dalam lingkungan istana, perempuan hanyalah sebagai pemuas
kaum laki-laki saja. Genduk Duku, Roro Mendut sebetulnya sangat dikehendaki
oleh Tumenggung Wiroguno untuk dijadikan selir, tetapi dengan tegas ditolak. Tokoh
telah memenangkan cintanya, cinta yang suci dibelanya sampai mati.
Dalam triloginya, Mangunwiyaja
menampilkan tokohnya yang bernama Roro Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri. Mereka
berasal dari daerah pantai. Masyarakat pantai biasanya tidak mengenal kerumitan
birikrasi. Dengan demikian suasana demokratis akan mudah tercipta karena
terdapat keselarasan, keseimbangan dan keharmonisan lebih bersifat horizontal.
Lingkungan dapat membentuk kepribadian seseorang. Sebagai perempuan pantai, Mendut dilukiskan sebagai perempuan yang perkasa, cerdas dan tidak mudah putus asa. Meskipun tinggal di istana, ia tetap sebagai gadis yang pantang menyerah dan pemberontak. Perubahan lingkungan kehidupan pantai ke lingkungan istana, ternyata tidak mengubah karakteraslinya. Ia dibesarkan di lingkungan kaum nelayan yang keras. Kaum nelayan biasa bergulat dengan badai dan ombak lautan. Hal itu dapat menumbuhkan sifat-sifat tidak mudah putus asa dan tidak mudah menyerah.
“Tidak pernah seorang calon istri
TumenggungWiroguno mengajukan syarat.”
“Siapa bilang aku calon istri
Wiroguno?” tangkisMendut sungguh kurang ajar.....(Mangunwijaya,
1994: 121)
Gambaran tersebut memperlihatkan
bahwa tokoh yang dilatarbelakangi oleh kehidupan yang keras akan menyebabkan seseorang
tidak mau menyerah, dia mempunyai prinsip hidup yang tegas. Tokoh dengan berani
menentukan sikap hidupnya, tidak pandang bulu terhadap penguasa.
Di istana seorang
perempuan berada di bawah kekuasaan kaum laki-laki, Mangunwijaya rupanya ingin
memperlihatkan bahwa kaum perempuan pun ternyata mampu mempunyai kekuasaan dan
keperkasaan.
ESAI
Kesucian di Balik Kesunyian
Dalam sajaknya “Sunyi itu Duka”
Amir Hamzah memberikan pengertian tentang sunyi.
Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus
Larik sajak tersebut
merupakan manifestasi dari olah piker Amir Hamzah dalam mendefinisikan
kesunyian. Salah satunya ialah sunyi yang identik dengan getir, gundah, dan
luka. Oleh karena itu, pengertian sunyi di titik ini cenderung berkait-ke-
lindan dengan segala hal ihwal yang sifatnya ironi. Bangsa Indonesia setidaknya
pernah mengalami babakan sejarah yang anti terhadap hiruk-pikuk Kekuasaan
disetel sedemikian rupa untuk menyensor segala aktivitas kehidupan masyarakat.
Sejarah berjalan secara monologis. Tidak ada keriuhan dan ke-bisingan karena
semua dipaksa untuk diam.
Konsekuensinya ialah
terciptanya rezim antikritik. Seluruh elemen masyarakat didikte untuk mengikuti
apa yang telah di-titahkan. Titah itu diklaim sebagai “kebenaran” yang mau
tidak mau harus dilaksanakan meskipun perih dan pedih mengiris kehidupan
masyarakat. Inilah realitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang berada
di bawah bayang-bayang rezim Orde Baru.
Arus kebudayaan
dibelokkan untuk melegitimasi segala kebijakan yang diambil oleh rezim,
termasuk dengan membungkam para penyair yang dianggap berisik. Namun, penyair merupakan
orang pilihan yang di dalam dirinya tertera sifat pemberani. Meski berkali-kali
dibungkam, ia tetap menolak patuh. Ia tidak sudi mendekam dalam kesunyian, ia
harus bersuara. Penyair tidak mau menjadi bagian dari apa yang oleh seorang
sosiolog Jean Boudrillard disebut mayoritas yang diam(silent majorities).
Para penyair menyadari bahwa Orde Baru akan memainkan kuasanya hingga aspek kebahasaan. Aspek-aspek terkecil pun selama bisa terjangkau oleh radar rezim akan terus dipaksa untuk patuh. Menyadari hal itu sejumlah penyair merepresentasikan puisi sebagai bentuk kekhawatiran dan ketakutan.
Dengan sangat lugas
sastrawan cum sejarawan, Pramoedya Ananta Toer menggambarkan betapa perihnya
dibungkam oleh rezim Orde Baru. Dalam bukunya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu ia memotret
kehidupan yang begitu nelangsa di daerah pembuangan, Pulau Buruh. Pram
merupakan contoh kecil dari anasir yang perlu disingkirkan. Buku tersebut
merupakan sejenis memoar yang menceritakan elegi kehidupan Pram di pengasingan.
Buku itu berisi surat-surat untuk anak-anaknya yang tidak pernah terkirim dan
esai-esai yang digubahnya dari renungan terhadap realitas kehidupan yang
mencekam.
Pada masa Orde Baru
sunyi adalah duka. Kesunyian di sini ialah kengerian yang tersembunyi atau
sejenis tragedi yang terus-menerus datang melanda, tetapi berusaha untuk terus
ditutup-tutupi. Orde Baru menjadi rezim pendamba kesunyian dan penolak segala
kebisingan yang datang melalui kebebasan berekspresi. Jalan sunyi yang ditempuh
Orde Baru tidaklah benar-benar sunyi karena di balik itu terendap sebuah
gejolak dan gemuruh yang tak berkesudahan.
Riuhnya kehidupan
Tumbangnya Orde Baru
membuat kebebasan berpendapat tidak lagi disekat. Seturut dengan itu, wahana-wahana
untuk berpendapat dan berekspresi pun kian menjamur. Titik baliknya ialah
ketika teknologi informasi semakin canggih. Peradaban sunyi yang dulu digelar
oleh Orde Baru dengan cepat terganti oleh hiruk-pikuk yang timbul pada era
Refomasi.
Nubuat yang dulu sempat
disuarakan oleh seorang ilmuwankomunikasi Marshall McLuhan tentang desa yang
mengglobal(global village) terbukti benar. McLuhan melontarkan ide semacam itu
pada tahun 60-an. Pada waktu itu ide tersebut dianggap aneh dan terlampau radikal
karena televisi dan radio jangkauannya masih terbatas dan internet pun belum
ada. Desa global adalahsebuah konsep terkait perkembangan teknologi komunikasi
yang diandaikan sebagai sebuah desa yang sangat luas dan besar.
Dalam tatanan kehidupan
desa yang mengglobal (globalvillage) pola penyebaran informasi semakin masif
karena bisa diakses oleh semua orang. Komunikasi yang terjalin bukan sekadar interaksi individual, melainkan
interaksi massa. Kejadian yang sedang terjadi di kota metropolitan Jakarta dengan
hitungan per sekian detik bisa diakses oleh mereka yang berada di pelosok Pulau
Madura.
Akan tetapi, ironisnya
saat manusia tak mampu mengendalikan perkembangan teknologi informasi. Masih
segar dalam ingatan kita tentang seorang laki-laki di Jagaskara, Jakarta membuat
siaran langsung bunuh diri di akun media sosialnya. Pihak facebook mungkin tak
akan sempat berpikir bahwa fitur siaran langsung yang diciptakannya akan
berdampak buruk seperti itu.
Namun, itulah dampak jika
yang diciptakan melampaui kehendak penciptanya. Barangkali cerita dalam
novelnya Mary Shelley sangat tepat dijadikan tamsil. Viktor Frankeinstein tokoh
dalam novel itu mencoba menghidupkan kembali orang mati dengan merakit ulang
potongan-potongan organ manusia. Akan tetapi, yang terjadi dari uji coba selama
di laboratorium tersebutjustru monster meneror penciptanya.
Di samping itu,
pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat kita terkepung oleh
kesegeraan. Seolah-olah kita dituntut untuk terus mengikuti perkembangan
terkini, entah itu
perkembangan ekonomi, politik, style atau mode. Tak ada ruang bagi kita untuk
menepi sejenak dari riuhnya pasaraya informasi.
Kecepatan dan
kesegeraan membuat eksistensi manusia gampang terombang-ambing. Padahal, terkadang
kecepatan perkembangan ekonomi, politik, mode atau style tidak sesuai dengan
kemampuan manusia untuk menggunakan fungsinya. Kita dibawa untuk terus berlari
oleh komoditas yang sedang berkembang atau oleh informasi yang sedang viral,
bukan malah mengendalikan lajunya. Inilah “Abad yang Berlari ” meskipun seribu
manusia dipacu tak habis mengejar.
Belum lagi soal hoax
atau berita bohong atau fitnah yang gampang diumbar di media sosial yang
membuat garis antara kebenaran dan kepalsuan kian menipis. Dengan ujaran
kebencian (hate spech), media sosial menjadi palagan untuk saling menghujatdan
saling menyalahkan.
Kesunyian pada saat ini
ialah sesuatu yang seolah-olah jauh karena hidup sedang dililit oleh kegaduhan,
keramaian, dan kebisingan. Pesatnya teknologi informasi membuat sebagiana masyarakat
hanyut dan lebur dalam persoalan yang justru tidak berkenaan sama sekali dengan
dirinya sendiri. Mereka terlibat debat kusir yang belum tentu memiliki
signifikansi. Kehidupan publik kita surplus kebisingan dan defisit kesunyian.
Semua initerjadi saat batas dan jarak telah dilipat oleh kecanggihan teknologi
informasi.
Kesunyian pun terasa
lindap tertelan derasnya arus informasi yang hadir setiap detik. Naasnya,
infomasi yang berjejal masuk dalam pikiran kita ialah informasi buruk mulai
soal pem-bunuhan, pemerkosaan hingga kasus korupsi. Secara tidak langsung
setiap hari kita memperbanyak jelaga dalam diri yang mengusik ketenangan dan
kedamaian hidup.
Untuk itu, di saat suasana sedang genting, ramai dan gaduh,salah seorang investor Amerika, Warren Buffet menyarankan untuk berhenti membaca koran atau lebih tepatnya berhentilah sebentar bermedia sosial dan sejenak memilih jalan sunyi untuk menajamkan nalar dan menerangi mata hati.
Di tengah riuh-rendahnya
kehidupan kita saat ini, mengkhidmati kesunyian merupakan jalan yang harus
ditempuh agar bisa meluruhkan kegelisahan, kesumpekan dan kegaduhan yang melilit.
Karena sunyi bukan sekadar duka seperti yang tergores dalam lembar sejarah Orde
Baru, melainkan juga kudus yangdapat menyibakkan segala gundah yang sedang
memasung diri.
Dalam banyak tradisi,
kesunyian memiliki posisi yang agung. Setidaknya, di dalam kesunyian itu kita
bisa melakukan refleksi, menafakuri hidup dan menguatkan konsentrasi. Laku-laku
meditatif yang tersimpan di balik kesunyian ialah jalan keluar bagi kita yang
sedang terhimpit oleh kegelisahan dan krisis eksistensial.
Dalam tradisi Jawa
sudah sejak dahulu mendekam dalam kesunyian dikenal dengan nama semedi atau
bertapa. Ada banyakcara yang dilakukan dalam bertapa, entah dengan pergi ke
gua-gua, tinggal di puncak-puncak perbukitan atau berdiam diri ditempat-tempat
ziarah yang disucikan di seantero Pulau Jawa.Tujuan mereka jelas ialah
menyinari jiwanya dengan kebenaran hakiki agar hidup yang dijalani penuh dengan
keselamatan.
Momen-momen kesunyian
memberikan getaran rohani yang sangat luar biasa. Inilah yang dilakukan oleh
Nabi Muhammad Saw. saat khalwat di Gua Hiro. Dengan demikian, saat berkonsentrasi
penuh dan merenung secara kuat, pancaran kebenaran gampang tertuang pada diri.
Hanya dalam kesunyian, Tuhan sebagai bahasa kebenaran menemukan tempat dan
hadir dalam hati. Sebagaimana kata Bunda Theresa, “Tuhan adalah kawan kesunyian.
Pepohonan, bunga dan rerumputan tumbuh dalam kesunyian. Lihat juga bintang, bulan
dan matahari semua bergerak dalam kesunyian.”
Pada dimensi yang lain
menempuh jalan asketis dan medi-tatif seperti itu berguna untuk menguatkan
eksistensi dan mengintrospeksi diri. Syahdan, saat gelombang kepesatan teknologi
informasi sedang menjadi-jadi, eksistensi kita tetap tegakdan tidak gampang
terbawa arus bagaikan karang yang dihantam ombak. Pijakan kita jelas karena kita
telah mampu membedakan antara yang artifisial dan yang substansial, atau antara
yang faktual dan yang fiktif.
Sementara seseorang yang hanya berkubang dalam gemerlap duniawi dan hiruk-pikuk kehidupan akan sangat ke-sulitan menemukan dirinya yang sejati. Melalui perilaku meditatif itulah kita mampu menekan kelakuan yang cendrung egoitis dengan menemukan “aku” yang hakiki, yakni yang altruis, bijak, jujur, dan toleran.
Setelah merasakan sunyi
yang kudus itu, seseorang akan teguh merawat jiwanya meski berada dalam
keriuhan. Ia menjadi ngeli nanging ora keli ‘menghanyutkan, tetapi tidak
terhanyut’. Pada titik ini memilih jalan sunyi bukan berarti selamanya mendekam
di dalamnya, melainkan harus terjun kembali ke tengah-tengah kehidupan yang
disesaki keriuhan sembari menjadi suluh yang dapat mengatasi aneka persoalan
yang sedang membelit masyarakat.
Mereka yang telah
mencapai titik ini akan mengabdikan hidupnya semata untuk kepentingan umat
manusia dan menjaga harmoni semesta. Kapasitas yang terkandung dalam dirinya
bisa ditransformasikan dalam kehidupan sosialnya. Pemahamanseperti itu yang
menurut Ki Hadjar Dewantara tertuang dalam semboyan mengaju-aju salira,
mengajuaju bangsa, mengajuaj menungsa ‘membahagiakan diri, membahagiakan
bangsa, membahagiakan manusia’.
Mengakrabi kesunyian
bukan berarti antisosial, tetapi sebagai titik pijak untuk berlaku luhur
terhadap sesama. Soekarno misalnya menemukan ide dasar Pancasila justru saat
berada dalam kondisi sunyi di Pulau Ende Nusa Tenggara Timur. Ia terus merenung
di bawah pohon sukun memikirkan falsafah yang cocok untuk bangsa Indonesia
hingga pada akhirnya ditemukanlah, konsep dasar Pancasila. Demikian pula dengan
sejumlah tokoh besar, seperti Mahatma Gandhi, Abdurahman Wahid alias GusDur,
dan Mohammad Hatta yang teguh merawat ketenangan jiwanya dengan menempuh jalan
sunyi yang kudus.
Dengan demikian, sunyi yang kudus dapat melahirkan kejernihan berpikir dan kearifan bertindak. Alhasil, merenung dalam kesunyian merupakan salah satu cara agar tidak gampang terprovokasi dan tetap tenang di tengah deru kecepatan informasi. Persoalannya, masihkah kita bisa mengkhidmati dan menemukan kesucian di baliknya?***
Teks kritik dan esainya sudah dibuat sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan, pembahasan yang dipapar pun menarik.
BalasHapusTeks kritik yang disajikan membahas makna puisi dengan sangat lengkap dan unsur unsur pembentukan puisinya pun dibahas dengan jelas. Dan teks esai nya juga sangat bagus.
BalasHapusTeks kritik di atas menyajikan pembahasan buku yang lengkap. Teks esai yang dibuat juga sangat menarik ditambah lagi drngan judul yang apik.
BalasHapusTeks Esai yang dibuat sangatlah menarik karena mengangkat topik yang sedang hangat dibicarakan. Teks kritik yang dibuat juga sudah menggunakan unsur dan kaidah kebahasaaan yang sesuai dengan aturan, serta menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.
BalasHapusTeks kritik dan teks esai tersebut sangat menarik dan sangat lengkap pembahasan nya👍
BalasHapusTeks essai yang dibuat membahas topik yang sangat menarik dan mengedukasi bagi pembaca, selain itu gaya bahasa yang digunakan juga mudah untuk dimengerti dan disajikan dengan jelas sehingga pembaca tidak bosan.
BalasHapusTeks kritik dan esai yang dibuat sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan, gaya bahasa yang digunakan mudah dipahami dan menarik untuk dibaca
BalasHapusTeks kritik dan essai yang dibuat sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan. Topik yang digunakan untuk essai pun cukup menarik
BalasHapusteks esai dan kritik yang dibuat sudah sesuai degan struktur dan kaidah kebahasaannya, topik yang diangkat pada esai menarik dan kritik sastranya cukup kritis👍
BalasHapusTeks kritik dan esai yg dibuat bagus dan menarik, penulisannya sudah sesuai kaidah kebahasaan dan struktur yg benar, bahasanya jg mudah dimengerti
BalasHapusTeks kritik dan esai nya sudah bagus dan sesuai dengan kaidah kebahasaan nya. Kata-kata nya mudah dipahami dan dimengerti
BalasHapusTeks kritik yang dibuat sudah sesuai dengan unsur, serta menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami selain itu memberikan informasi yang jelas bagi pembacanya. Teks esai yang dibuat juga sangat menarik untuk dibaca dan menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.
BalasHapusMenurut saya teks kritik dan esai tersebut sudah sangat bagus dan sesuai baik dari segi struktur, maupun kaidah kebahasaannya. Selain itu masing-masing teks yang dibuat juga sudah sesuai dengan ciri-ciri dari teks kritik dan juga esai. Masalah yang diangkat dan dibicarakan juga merupakan topik yang aktual sehingga menarik untuk dibaca
BalasHapusTeks kritik yang dibuat sangat menarik, pembahasannya lengkap dan bahasa yang digunakan pun mudah dipahami. Teks essai yang dibuat pun sudah baik dan sesuai dengan kaidah penulisan teks essai.
BalasHapus