TEKS CERITA SEJARAH
Hikmah dari Kisah Piluku
Mohammad Toha, itulah nama lengkapku. Aku dilahirkan di Jalan Banceuy, Desa Suniaraja, Kota Bandung pada tahun 1927. Ayahku bernama Suganda dan ibuku yang berasal dari Kedunghalang, Bogor Utara, Bogor, bernama Nariah. Beberapa tahun kemudian setelah aku lahir, tepatnya pada tahun 1929 ayahku meninggal dunia. Aku hampir lupa wajah ayahku dan tidak memiliki banyak kenangan dengannya karena beliau meninggal saat aku masih kecil.
Sejak ayah meninggal ibu sedih hingga berlarut-larut. Ibu menjadi jarang makan karena masih merasa sedih kehilangan ayah. Aku menjadi khawatir, karena semakin berganti hari, ibu sakit dan bertambah lemah. Akhirnya pamanku yang bernama Sugandi menolong ibuku untuk bangkit dari sedihnya dan merawatnya ketika sakit.
Sejak saat itu ibu dan paman menjadi sering bertemu dan timbulah rasa saling menyukai dan menyayangi. Akhirnya ibu memutuskan untuk menikah kembali dengan Sugandi yaitu adik dari ayahku. Saat ibu menikah terpancar senyum wajahnya, aku turut bahagia karena ibu tidak sedih lagi. Kupikir ketika mereka sudah menikah hidup kami akan bahagia, tetapi itu semua tidak seindah yang di bayangkan. Ibu dan pamanku yang sudah menikah itu menjadi menjadi sering bertengkar karena hal kecil, berbeda pendapat, dan hal lainnya. Pada akhirnya, tidak lama dari pernikahan itu, keduanya memutuskan bercerai demi kebaikan bersama.
Setelah ibu dan pamanku berpisah, ibu pergi dari kota Bandung dan memulai hidupnya kembali di kota Bogor. Kemudian ibu meninggalkan aku pada kakek dan nenek dari pihak ayahku, yaitu Bapak Jahiri dan Ibu Oneng. Pada saat aku berumur 7 tahun, kakek memasukkan aku ke Volk School (Sekolah Rakyat). Di sekolah itu aku bertemu dengan teman yang sangat baik yaitu Martha Malahayati Koesoema.
Martha merupakan wanita yang sangat ramah, mudah bergaul, pintar, dan ia juga dikenal dengan wajahnya yang cantik. Martha merupakan orang yang terpandang karena ia merupakan keturunan ningrat. Martha merupakan anak dari Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema V yang saat itu sedang menjabat sebagai Bupati di Kota Bandung. Aku dan Martha sering bermain bersama, belajar bersama, dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya. Martha merupakan orang yang asik dan menyenangkan, hingga akhirnya ia menjadi teman dekatku.
Waktu sudah berlalu cukup lama, tetapi tidak terasa persahabatanku dengan Martha sudah hampir 4 tahun. Namun tiba-tiba sekolahku terhenti ketika Perang Dunia II. Aku mendengar kabar bahwa Perang Dunia II cukup berpengaruh ke Kota Bandung yang saat itu sudah menjadi kota penting saat pemerintahan kolonial di Hindia Belanda. Kota yang aku tinggali ini yaitu kota Bandung memiliki akses penting ke Eropa, baik secara ekonomi dan politik dan menjadi salah satu kota yang menjadi perhatian warga dunia.
Dalam pengaruh situasi politik di Eropa atau sehari menjelang terjadinya Blitzkrieg (serangan kilat) pasukan Jerman ke Polandia, surat kabar Nieuwe Leidsche Courant, terbitan 1 September 1939, memberitakan, pada 31 Agustus 1939, di Kota Bandung dan Cimahi, pihak militer Belanda mengadakan parade besar. Kantor berita Aneta menyebut, parade besar militer Belanda tersebut diperintahkan oleh Kolonel Kemmerling, sedangkan Mayor Jenderal Cox melakukan inspeksi.
Karena terdapat beberapa pengaruh kekacauan akibat perang dunia II, sekolah pun dihentikan. Setelah mengetahui kabar mengenai kekacauan yang disebabkan perang dunia II, Kemudian aku pergi ke rumah Martha untuk bermain atau sekedar ingin bercengkrama dengannya. Namun rumah yang ditinggali Martha tersebut terlihat sepi, akupun bertanya kepada penjaga yang berada di sekitar rumah itu, “Pak, apakah Martha ada di rumah? Dan mengapa rumah ini terlihat sangat sepi?”.
“Loh, nak Toha, memang kamu belum tahu kalau keluarga dari bapak Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema V sudah pindah ke Cianjur untuk sementara karena sedang ada kekacauan disini?” kata bapak penjaga dengan kebingungan. Aku membelakkan mata dan terkejut, “Iya saya belum tahu pak, karena Martha memang tidak berpamitan kepada saya.” Sejak saat itu aku menunggu Martha hingga bertahun-tahun dan ternyata ia belum kembali juga.
Pada awal Perang Dunia II yaitu bulan Mei 1940, Belanda diduduki oleh Jerman Nazi. Hindia Belanda mengumumkan keadaan siaga dan mengalihkan ekspor untuk Kekaisaran Jepang ke Amerika Serikat dan Inggris. Negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal pada Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan hampir seluruh wilayah Asia Tenggara pada bulan Desember di tahun yang sama. Apalagi setelah Amerika melancarkan embargo minyak bumi yang sangat dibutuhkan untuk industri di Jepang maupun untuk keperluan perang.
Admiral Isoroku Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, mengembangkan strategi perang yang sangat berani, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk dua operasi besar. Seluruh potensi Angkatan Laut Jepang mencakup 6 kapal induk (pengangkut pesawat tempur), 10 kapal perang, 18 kapal penjelajah berat, 20 kapal penjelajah ringan, 4 kapal pengangkut perlengkapan, 112 kapal perusak, 65 kapal selam serta 2.274 pesawat tempur. Kekuatan pertama, yaitu 6 kapal induk, 2 kapal perang, 11 kapal perusak serta lebih dari 1.400 pesawat tempur, tanggal 7 Desember 1941, akan menyerang secara mendadak basis Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbor di kepulauan Hawaii.
Sedangkan kekuatan kedua, sisa kekuatan Angkatan Laut yang mereka miliki, mendukung Angkatan Darat dalam Operasi Selatan, yaitu penyerangan atas Filipina dan Malaya/Singapura, yang akan dilanjutkan ke Jawa. Kekuatan yang dikerahkan ke Asia Tenggara adalah 11 Divisi Infantri yang didukung oleh 7 resimen tank serta 795 pesawat tempur. Seluruh operasi direncanakan selesai dalam 150 hari. Admiral Chuichi Nagumo memimpin armada yang ditugaskan menyerang Pearl Harbor.
Pada pagi 7 Desember 1941, 360 pesawat terbang yang terdiri dari pembom pembawa torpedo serta sejumlah pesawat tempur diberangkatkan dalam dua gelombang. Pengeboman Pearl Harbor ini berhasil menghancurkan 188 pesawat dan merusak delapan kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat. Selama dua jam pengeboman, 2.402 orang Amerika tewas dan 1.283 lainnya luka-luka. Namun tiga kapal induk Amerika selamat, karena pada saat itu tidak berada di Pearl Harbor.
Tanggal 8 Desember 1941, Kongres Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang. Tiga hari kemudian, Jerman menyatakan perang terhadap Amerika Serikat. Kondisi ini menjadikan Amerika Serikat tergabung dengan pasukan Sekutu dan terlibat pertempuran di Eropa dan Asia Pasifik. Perang Pasifik ini berpengaruh besar terhadap gerakan kemerdekaan negara-negara di Asia Timur, termasuk Indonesia.
Tujuan Jepang menyerang dan menduduki Hindia Belanda adalah untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dirancang sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatra sebagai sumber minyak utama. Saat masa pendudukan Jepang ini, aku mulai mengenal dunia militer dengan memasuki Seinendan, organisasi semi-militer yang didirikan dalam tanggal 29 April 1943. Sehari-hari aku juga membantu kakek di Biro Sunda, kemudian bekerja di bengkel motor di Cikudapateuh. Selanjutnya, aku belajar menjadi montir mobil dan bekerja di bengkel kendaraan militer Jepang sehingga aku juga cukup mahir bercakap dalam bahasa Jepang.
Aku mendengar kabar dari temanku bahwa dua bom atom dijatuhkan ke dua kota di Jepang pada 6 Agustus 1945, Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat. Ini menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Indonesia tidak mau diam saja dan segera memanfaatkan momen ini untuk memproklamasikan kemerdekaannya. 7 Agustus - BPUPKI berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Pada 9 Agustus 1945 Soekarno, Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat diterbangkan ke Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang menuju kehancuran tetapi Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus. Sementara itu, di Indonesia, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio pada tanggal 10 Agustus 1945, bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang. Saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air pada tanggal 14 Agustus 1945, Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap.
15 Agustus - Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Belanda. Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945 mereka menculik Soekarno dan Hatta, dan membawanya ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.
Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta, bertemu dengan Jenderal Moichiro Yamamoto dan bermalam di kediaman Laksamana Muda Maeda Tadashi. Dari komunikasi antara Hatta dan tangan kanan komandan Jepang di Jawa ini, Soekarno dan Hatta menjadi yakin bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu, dan tidak memiliki wewenang lagi untuk memberikan kemerdekaan. Mengetahui bahwa proklamasi tanpa pertumpahan darah telah tidak mungkin lagi, Soekarno, Hatta dan anggota PPKI lainnya malam itu juga rapat dan menyiapkan teks Proklamasi yang kemudian dibacakan pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945. Tentara Pembela Tanah Air, kelompok muda radikal, dan rakyat Jakarta mengorganisasi pertahanan di kediaman Soekarno. Selebaran kemudian dibagi-bagikan berisi tentang pengumuman proklamasi kemerdekaan. Adam Malik juga mengirim pesan singkat pengumuman Proklamasi ke luar negeri.
Setelah Indonesia merdeka, aku merasa terpanggil untuk bergabung dengan badan perjuangan Barisan Rakjat Indonesia (BRI), yang dipimpin oleh Ben Alamsyah, pamanku sendiri. BRI selanjutnya digabungkan dengan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Anwar Sutan Pamuncak menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Dalam laskar ini aku duduk sebagai Komandan Seksi I Bagian Penggempur.
Menurut keterangan Ben Alamsyah, paman Toha, dan Rachmat Sulaeman, tetangga Toha dan juga Komandannya di BBRI, pemuda Toha adalah seorang pemuda yang cerdas, patuh kepada orang tua, memiliki disiplin yang kuat serta disukai oleh teman-temannya. Pada tahun 1945 itu, Toha digambarkan sebagai pemuda pemberani dengan tinggi 1,65 m, bermuka lonjong dengan pancaran mata yang tajam.
Beberapa hari setelah kemerdekaan Indonesia itu aku sedang berjalan-jalan di sekitar kota Bandung. Dan Sesutu yang tidak pernah disangka terjadi, akupun benar-benar terkejut. Aku melihat sosok wanita remaja yang sangat mirip dengan Martha. “Kamu Toha kan? Apakabar? kita sudah lama sekali tidak bertemu” Kata Martha dengan muka sumringahnya.”Iya benar, aku Toha, apakah kamu Martha?”
”Hahahaha.. iya jelas dong. Masa kamu lupa!” jelas Martha dengan tawa manis nya. “Martha??!! k..k..kamu benar Martha? kemana saja kamu setelah bertahun-tahun? aku sangat merindukanmu.” Aku segera memeluk Martha karena sangat merindukannya. Martha membuat aku pangling, ia berubah menjadi lebih tinggi dan semakin cantik. Aku rasa hanya aku yang tidak berubah dari dulu, hanya begini-begini saja. Selama tidak ada Martha bertahun-tahun ini aku merasa kesepian, karena biasanya Marthalah yang selalu memecah suasana kesepian dan kesedihan menjadi suasana yang hangat dan menyenangkan.
Setelah pertemuan itu aku dan Martha kembali menjadi akrab seperti dahulu saat masih kecil. Martha menceritakan banyak hal tentang kepergiannya meninggalkan kota Bandung kala itu, ternyata ia bukan hanya pindah ke Cianjur. Namun ia juga bepergian ke beberapa kota yang berada di pulau Jawa, seperti ke Batavia, Yogyakarta, Semarang dan masih banyak kota-kota lainnya dalam beberapa tahun itu. Martha berkata bahwa ia melakukan banyak hal dan mencoba sesuatu yang baru di beberapa kota tersebut. Aku sangat kagum kepada Martha karena ia sudah melakukan banyak hal tersebut di umur yang masih terbilang muda.
Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Saat mendengar bahwa sekutu datang ke Indonesia aku dan orang-orang disekitarku sudah mulai merasa resah dan curiga. Dan benar saja mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR (Tentara Keamanan Rakyat), diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan.
Kami para penduduk di kota Bandung tidak terima akan hal tersebut, karena merasa sangat tidak nyaman akibat diganggu, terjadilah bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) tidak dapat dihindari. Malam tanggal 21 November 1945, TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas.
Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata. Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI pada saat itu) meninggalkan Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi "bumi-hangus".
Aku dan Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Keputusan untuk membumi-hanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 23 Maret 1946. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung.
Hari itu juga, aku membantu rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang untuk meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung. Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik mati.
Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini aku dan temanku Muhammad Ramdan, kami berdua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut.
Aku terlibat dalam suatu penyerangan ke gudang mesiu sekutu di Dayeuhkolot beserta pejuang dari kelompok Hizbullah. Dalam jalan operasi, aku merasakan dadaku sakit dan sesak, ternyata aku tertembak, dan agar tidak membebani rekanku, Aku menggunakan granat untuk meledakkan diriku beserta gudang mesiu tersebut. Pada tanggal 11 Juli 1946, Mohammad Toha meninggal karena rela mengorbanan jiwa dan raganya nya bagi Kemerdekaan Indonesia.
Demikian tugas ini saya buat dengan penuh tanggung jawab. Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai evaluasi untuk pembuatan tugas berikutnya.
Terima kasih.
Teks cerita sejarah yang dibuat sangat menarik. Cerita tersebut juga sudah memenuhi struktur dan kaidah kebahasaan teks cerita sejarah. Penggunaan bahasa dan pemilihan katanya mudah dipahami sehingga pembaca dapat memahami isi cerita dengan baik ☺️👍
BalasHapusTeks cerita sejarah yang dibuat sudah bagus, mudah dipahami, dan sesuai struktur dan kaidah kebahasaan 👍🏻
BalasHapusGaya bahasa yang digunakan mudah dimengerti, alur ceritanya menarik, dan menggunakan kaidah kebahasaan yang baik dan benar
BalasHapusCerita sejarah yang dibuat bagus dan sangat menarik. Ceritanya juga sudah memenuhi struktur dan kaidah kebahasaan teks cerita sejarah.
BalasHapusStruktur teks cerita sejarah yang digunakan sudah lengkap, selain itu, kaidah kebahasaannya juga sesuai sehingga mudah dimengerti oleh pembacanya dan tidak terkesan bertele-tele. Ceritanya juga seru dan sangat menginspirasi. Sistematika penulisannya juga rapih dan mudah untuk dibaca
BalasHapusCerita yang dibuat sangat menarik dan inti dari teks trsebut tersampaikn dengan baik karena penggunaan bahasa yang mudah di pahami.
BalasHapusalur cerita teks sejarah yang dibuat sudah bagus dan menarik selain itu kaidah kebahasaannya sudah sesuai sehingga ceritanya mudah di pahami
BalasHapusTeks cerita sejarah yang dibuat sangat menarik. Penulisan teks sudah baik dengan memperhatikan struktur dan kaidah kebahasaan yang tepat
BalasHapusteks ceritanya sudah bagus,menarik,bahasannya mudah dipahami
BalasHapusCeritanya sangat menginspirasi dan menarik. Penggambaran tokoh dalam ceritanya pun sudah jelas.👍👍
BalasHapusWoww cerita nya sangat menarik untuk dibaca, penggunaan kata dan bahasa nya pun mudah di pahami, ditambah ada sedikit ilustrasi sangatt baguss👍
BalasHapus